Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Teks Anekdot Beserta Strukturnya Yang Baik Dan Benar

ADSENSE HERE!
Teks Anekdot Beserta Strukturnya Yang Baik Dan Benar | Pada kesempatan kali ini saya akn menuliskan sebuah artikel mengenai Teks Anekdot. Didalam blog ini akan kami jelaskan apa itu teks anekdot beserta strukturnya. Selain itu kami juka akan memberikan beberapa teks anekdot yang baik dan benar. 

Anekdot adalah sebuah cerita singkat yang lucu dan menghibur yang mungkin merupakan pengalaman dari seseorang. Teks Anekdot bertujuan untung menghibur pembacanya. Teks Anekdot tidak hanya berisi tentang peristiwa – peristiwa menarik, konyol dan menjengkelkan, melainkan juga berisi tentang ungkapan suatu kebenaran yang lebih umum.

Ciri – Ciri Teks Anekdot yang pertama adalah lebih dekat dengan perumpamaan tentang dongeng. Dan yang kedua adalah menampilkan karakter hewan dan figur manusia pada umumnya dan sering terhubung dengan realitas. Nah, untk lebih jelasnya silahkan simak beberapa contoh yang telah kami tuliskan dibawah ini. 



Teks Anekdot Beserta Strukturnya Yang Baik Dan Benar

Contoh Teks Anekdot : Dunia


Suatu hari terdapat dua warga negara indonesia sedang mengobrol disekitar pesisir pantai salah satu tempat di indonesia, mereka bernama doni dan dodi. Mereka sedang membicarakan seseorang warga asing. "Hey lihat tuh, ada orang bule yang hanya memakai pakaian dalamnya saja." kata doni. Si dodi hanya menjawab "Ah... itu hanya hal yang sudah biasa bagi dia." lalu doni heran heran dan berfikir apa benar sudah biasa? dan bertanya. "sudah biasa darimana? tuh, teman kita yang asli orang indonesia memakai pakaian yang sama malah ditertawakan dan dia dianggap gila oleh orang lain." Dodi berfikir dan mengerutkan keningnya. "iya juga sih, lantas siapa yang gila?."

lalu mereka terdiam karena memikirkannya dan beberapa menit kemudian mereka mengabaikannya lalu melanjutkan aktifitas seperti biasa.


Teks Anekdot  Tentang Sekolah : Libur Panjang Sekolah



Ketika pelajaran dimulai, terjadi dialog antar ibu guru dan muridnya.

Guru : Anak-anak, gimana perasaan kalian saat ini ?

Murid : Senang bu!

Guru : pertama-tama ibu akan menanyakan kata-kata bijak apa yang sering dikatakan bapamu?

Murid 1 : Hidup ini harus kita "LANJUTKAN"!

Guru : oooh,bapak kamu pasti anggota partai demokrat ya ?

Murid 1 : betul bu

Guru : Oh pantes, sekarang kamu!

Murid 2 : Kata bapak saya hidup ini harus kuat seperti "BANTENG"!

Guru : Ohhh,pasti bapak kamu anggota partai PDIP

Murid 2 : betul bu.

Guru : pantes,sekarang lanjutkan lagi

Murid 3 : kata bapak saya "Lebih baik memberi dari pada diberi"

Guru : Wow,itu baru betul,bapak kamu pasti ustat / pendeta atau semacamnya ya ?

Murid 3 : ukan bu.

Guru : ohhh pasti bapak kamu seorang yang taat ibadahnya kan ?

Murid 3 : bukan bu.

Guru : pasti bapak kamu seorang yang baik dan suka bersosialisasi ya ?

Murid 3 : Bukan juga bu

Guru (kesal) : terus apa dong!

Murid 3 : petinju bu.




Teks Anekdot : Kenyataan Dalam Fasilitas 

Seorang guru sedang mengabsen anak-anak muridnya sebelum memulai pelajaran.

Guru : budi ?
Budi : hadir bu!
Guru : caca ?
Caca : hadir bu!
Guru : joni ?
murid-murid : gak tau bu,masih diluar kayaknya .

Tiba-tiba jhoni masuk kedalam kelas.

Guru : jhoni abis dari mana saja kamu ?
Jhoni : maaf bu, tadi saya abis makan diwarung depan sekolah.
Guru : Ngapain kamu kesana ? kita kan sudh punya kantin disebelah uks.
Jhoni : Itu kantin bu ? saya kira petakan bu,kecil banget bu!
Para murid langsung tertawa mendengar jawaban jhoni,
Guru : Hus kamu ini masih mending ada kantin !
Jhoni : Tapi benerakan bu?
Guru : Iya juga sih,rame banget lagi kaya pasar.
Mendengar hal itu murid murid pun hanya meng-iya kan dan bu guru pun kembali mengabsen dan kelas pun kembali normal.


Teks Anekdot : Tanda Orang Pintar


"anak-anak tanda orang pintar itu apa?" Tanya pak guru

"Rajin baca dan nulis , bu !!!" jawab murid-murid

"Bagus - bagus" Puji pak guru

"Rajin nyontek bu" Jawab amir

"Lah kok,gitu mir?" tegur guru

"Buktinya kita nyontek buat kapal,akhirnya kita pintar buat kapal betulkan bu?"

"Betul juga, kamu mir mir jadi sekarang rajinlah nyontek" Guru berkata

"Asiik besok ulangan kita bisa nyontek" Jawab anak-anak gembira

"bukan, yang model itu" seru guru sambil megang jidat.


Teks Anekdot Layanan Sekolah : Matematika


Siang itu seorang guru matematika bernama Pak Dadang sedang memberikan pelajaran logaritma. Setelah memberikan penjelasan Pak Dadangpun bertanya kepada murid-muridnya.”ada yang ingin ditanyakan tentang penjelasan bapak tadi anak-anak?”tanya Pak Dadang.”jangankan tentang logaritma pak,penjumlahan aja saya masih bingung pak”celetuk salah satu murid bernama Andi. Lalu Pak Dadang berkata”makannya Andi kamu harus tekun belajar matematika agar kamu tidak bingung lagi”. “pak,Andi sudah berusaha belajar tapi tetap enggak bisa,bapak fikir aja deh singkatan dari matematika apa?”tanya Andi. “memangnya itu matematika?”. Pak Dadangpun mulai penasaran.

Pak Dadang mulai penasaran apa itu kepanjangan dari matematika dan ia bertanya kepada Andi. Andipun menjawab”matematika itu makin tekun makin tidak karuan”. Satu kelaspun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Andi. Pak Dadangpun berusaha membuat kelas kembali tenang, akhirnya suasana menjadi seperti semula.


Teks Anekdot Layanan Publik : Obat Penurun Panas 


Dokter RS jiwa melihat pasiennya buat kopi lalu memasukkan sebutir obat ke dalamnya. 
Dokter: "obat apa yang dimasukkan ke kopimu?"
pasien: "obat penurun panas biar kopi cepet dingin!"
Dokter : " Pahit aduh Panas kopinya kok enggak dinginya?"
Pasien : " dasar dokter setres."
pasien : " tolong buatkan jugak kopi untuk saya juga!"
Dokter : " Kopinya sudah habis"
pasien : " koq bisa habis? tadi saya lihat masih banyak"
Dokter : " Tadi saya Masukin semua."
pasien : " buatin Teh aja dh!
Dokter :" oke"
dokter sudah membuat teh dan mengasikkan ke pasien.
pasien :" kok tehnya dingin, Dok?"
Dokter :" kan tadi air panasnya tak pakek semua untuk buat kopi.Mangkanya tadi saya pakek obat penurun panas."

Pasien lalu pergi dan menaruh tehnya dimeja, karena kecewa dengan perlakuan dokter yang tidak sesuai dengan harapan.

Teks Anekdot Layanan Publik Di Bidang Kesehatan : Rokok Penyebab Kanker

Malam itu di pos ronda hanya terlihat beberapa pria yang melakukan jaga malam, sambil menikmati segelas kopi, makanan kecil, dan sambil merokok. Mereka sesekali berbincang agar suasana tidak begitu sunyi. Tiba-tiba pandangan Pak Syarif tertuju di bungkus rokok “ROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER”lalu Pak Syarif bertanya kepada teman-temannya”apa benar rokok itu dapat menyebabkan kanker?”tanya Pak Syarif. “bapak-bapak semua, walaupun rokok dapat menyebabkan kanker, saya tidak peduli karena saya sudah terlanjur kecanduan”sahut Pak Kadir. “ya ampun pak, hari ini saya saja sudah di vonis terkena kanker”celetuk Pak Asep.

Semua bapak-bapak terkejut mendengar perkataan Pak Asep. “ahhh, yang benar saja kamu sep??”tanya Pak Kadir. “ya bener lah pak, saya ini terkena kanker gara-gara beli rokok tadi siang”jawab Pak Asep. “kalau begitu mulai saat ini saya tidak mau merokok lagi”kata Pak Syarif. “bagus itu pak, saya setuju karena rokok dapat menyebabkan kanker alias KANTONG KERING”tambah Pak Asep.

Mendengar jawaban Pak Asep semua bapak-bapak yang ada di pos ronda tertawa. Karena sudah larut malam merekapun segera melaksanakan tugas mereka malam itu. Sehabis berbincang merekapun keliling kampung untuk melihat situasi kampung malam itu.


Teks Anekdot  : Salah pengertian tentang BBM


Pada suatu hari,di kelas Lina,Dewi,Lisa sedang membicarakan pesan BBM yang sangat populer dikalangan remaja.

“hy wi,ngomong - ngomong pesan BBM seru ya!,sekarang pesan BBM baru menunya tambah banyak,ga kaya dulu.”cetus lisa

“iya nih, sekarang aku setiap hari aku mainya BBM terus,udah sekarang ga pake pesan sms..lagi pula dihitung-hitung dari pada sms- an mendingan BBM-an,lebih murah.”jawab Dewi

Tiba tiba Lina yang tadinya diam,mendadak langsung ngomong.
“iya betul,BBM sekarang emang mahal,gimana sih tuh pemerintah,jual bbm mahal banget,ayahku aja beli bbm 100 ribu rupiah 2 liter,apa gak mahal coba?”sahut Lina

“maksudnya?”tanya Dewi

“kalian lagi ngomongin BBM(bahan bakar mahal)kan?”sahut Lina

“loh kok itu ,kita itu lagi ngomongin pesan BBM bukan BBM yang maksud kamu bahan bakar mahal itu,gmana sih.”jelas Lisa

“maaf,dikiraku kalian lagi ngomongin BBM(bahan bakar mahal)”jawab Lina dengan muka yang menahan malu

Mendengar hal itu mereka semua pun tertawa terbahak-bahak,dan akibatnya salah satu dari mereka ada yang sampai pergi ke kamar mandi.


Teks Anekdot : Biaya konsumsi durian


Alkisah ada 3 orang sahabat bernama Karen,Lina dan Trias yang baru saja diterima di sebuah sekolah menengah atas(SMA)setelah lulus dari sekolah menengah pertama(SMP).

Di sekolah mereka sedang ada pengumpulan dana untuk membangun kantin sekolah.maklum,kantin di sekolah mereka itu rubuh akibat goncangan gempa yang melanda sekolah itu berdiri beberapa bulan yang lalu.

Sudah sekitar 4 bulan mereka mengumpulkan dana sebesar 140 ribu rupiah/siswa itu selesai.namun belum ada tanda-tanda kantin baru yang telah direncanakan itu dibangun.

“Eh,teman,kapan sih kantin sekolah kita ini mau dibangun?perasaan udah lama deh kita bayar dana pembangunan kantin itu”,cetus karen kepada teman-temannya.

“iya nih,kapan ya mulainya?masak kita harus ke luar sekolah setiap mau jajan.apa mungkin dana itu masih kurang ya?”,sahut Rina.

“kayaknya enggak deh Rin,coba 140 ribu dikalikan 180 ribu.sudah ada 25 jutaan rupiah,apa itu masih kurang?”,jawab Karen ngeyel.

Tiba-tiba Trias yang dari tadi diam saja di dekat mereka bedua berkata”kalian mau tahu sebabnya ya?ke sini, aku akan tunjukkan!(sambil memberi isyarat kepada Karen dan Rina untuk mengikutinya.)”

“kalian lihat tumpukan kulit durian itu?(menunjuk tempat sampah di salah satu sudut sekolah yang penuh dengan tumpukan durian.)”tanya Trias kepada kedua temannya itu.

“iya.memangnya kenapa?”,jawab Rina.

“itu sisa durian untuk konsumsi dari sebagaian dana yang kita berikan itu”kata Trias

“jadi?”,tanya Karen heran.

“kalian kan tahu,harga durian itu mahal.jadi untuk konsumsi selama 4 bulan setelah pengumpulan dana itu selesai saja sudah memakan banyak dana.belum operasinal- operasinal yang lain!”,jelas Tria kepada temannya.

“tuh kan Ren ,benar yang aku bilang.Dana itu masih kurang,kamu nyesel sih Ren”,kata Rina kepada Karen sambil sedikit tertawa.

Teks Anekdot : Fasilitas kantin sekolah


Pada suatu hari,di kelas di sekolah cempaka seorang guru sedang meengabsen anak-anak muridnya sebelum memulai pelajaran.

“Dina?”,panggil Pak Guru.

“hadir Pak”,jawab Dina.

Setelah beberapa murid di sebutkan namanya,seorang murid memberi tahukan kepada pak guru,bahwa ada 1 anak lagi belum disebutkan namanya.

“Doni”.Panggil Pak Guru.

‘Tidak tau Pak,mungkin Doni masih berada di luar kelas pak”jawab salah satu muridnya.

(beberapa menit kemudian Doni memesuki ruangan kelas).

“permisi pak, bolehkah saya masuk?”,tanya Doni.

“dari mana saja kamu dari tadi.”Tanya Pak Guru.

“saya habis beli makanan di luar sekolah pak,”sahut Doni.

“ngapain kamu kesana,bukannya di sini ada kantin”Tanya lagi Pak Guru

“iya Pak,ada,tapi kantinnya kaya gudang dan kos kosan,kotor dan kecilbanget,pak!”jawab Doni dengan suara lantang.

(semua murid pun tertawa mendengar ucapan Doni)

“kamu itu,masih mending disini ada kantin,tapi bener juga sih,soalnya kurang adanya kebersihan”

Mendengar hal itu murid kembali belajar,dan guru membuatkan jadwal piket kantin dan menyuruh kepala sekolah agar segera merenovasi.






Contoh Teks Anekdot  : Sekolah Bertaraf Internasional

Suatu hari di suatu sekolah negeri Antah Berantah,

seorang guru memberi tahu kepada murid-muridnya

bahwa sekolah mereka akan menjadi sekolah SBI.





Guru: Anak-anak, ada kabar gembira untuk kita semua. Sekolah kita sebentar lagi akan menjadi sekolah SBI

(Sekolah Bertaraf Internasional). Nah, untuk menyambut hal ini, saya mau tanya apa yang akan kalian

siapkan. Joni, apa yang akan kamu untuk menyambut ini?

Joni: Belajar bahasa Inggris agar lebih mahir dalam berbicara bahasa Inggris.

Guru: Bagus sekali. Kalau kamu, Jono?

Jono: Harus siap uang, Pak.

Guru: Lho kok uang?

Jono: Ya Pak. Soalnya kalau sekolah kita statusnya sudah SBI, pasti bayarnya lebih mahal. Masa sih

bayarnya sama kayak sekolah biasa? Udah gitu, pasti nanti diminta iuran untuk ini itu.

Guru: Jawabanmu kok sinis sekali? Begini lho, kalau sekolah kita bertaraf internasional artinya sekolah kita itu

setara dengan sekolah luar negeri. Jadi, kalian seperti sekolah di luar negeri.

Jono: Tapi Pak, kalau menurut saya, SBI itu bukan Sekolah Bertaraf Internasional, tapi Sekolah Bertarif

Internasional.

Akhirnya guru tersebut kebingungan membalas kata-kata Jono dan langsung membahas materi pelajaran.

Sebagai informasi tambahan, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sekarang sudah dibubarkan oleh MK.

Teks Anekdot  : Ekstrakurikuler


Suatu hari seorang guru di suatu sekolah sedang melakukan sosialisasi kepada para siswa baru tentang

kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh mereka.

Guru: Anak-anak, selain mendapatkan pelajaran saat jam belajar di sekolah, kalian juga bisa mengikuti

kegiatan ekstrakurikuler. Adapun ekstrakurikuler yang wajib kalian adalah pramuka. Selain yang wajib, ada

juga ekstrakurikuler lain yang bisa kalian ikuti, antara lain PMR, PKS, PBB, rohis, drumband, dan komputer

Ada pertanyaan?

Jono: Pak, apa sih gunanya kita ikut ekstrakurikuler?

Guru: Oh, banyak. Dengan ikut kegiatan ekstrakurikuler, kita bisa melatih kedisiplinan, kekeluargaan,

kepemimpinan, dan sebagainya. Pokoknya banyak manfaatnya kalau kalian ikut ekstrakurikluer.

Joni: Termasuk tambahan uang saku ya Pak.

Guru: Ya, itu juga termasuk (sambil tersenyum).

Jono: Pak, kalau PBB itu gunanya apa Pak

Guru: Seperti yang sudah saya katakan tadi, intinya berguna untuk kehidupan kita.

Jono: Gimana Pak, saya nggak mudeng. Kalau PMR kan berguna untuk menolong orang sakit, pramuka

untuk melatih kedisiplinan dan cara bertahan hidup di alam bebas, PKS biar tahu rambu-rambu dalam

berkendara. Kalau rohis sih sudah jelas bermanfaat untuk keimanan dan ketakwaan.

Nah, kalau PBB kan

kegiatannya berbaris, berjalan, hadap kanan, hadap kiri, pokoknya kayak gitu deh. Apa kegiatan ini

bertujuan untuk mengatur kita berjalan?

Apa kalau kita mau keluar rumah, kita harus jalan di tempat dulu

lalu langkah tegap maju jalan?

Guru: Tentu bukan begitu. Misalnya, saat kalian rame-rame akan masuk kelas. Pintu kelas kan kecil,

sedangkan jumlah kalian banyak. Nah, kalian bisa baris dulu, lalu masuk satu persatu.

Tiba-tiba salah seorang siswa memberikan tanggapannya.

Joni: Pak, kalau menurut saya, PBB itu mengajarkan kita kalau kita melakukan sesuatu harus diperintah.

Kalau disuruh istirahat tempat ya istirahat tempat saja, nggak boleh jalan di tempat. Kalau itu diterapkan

dalam kehidupan, berarti kita nggak boleh belajar sebelum diperintah dong Pak.

Guru: Jadi pusing saya. Sudah cukup. Sekarang kalian cuma tinggal pilih saja ekstrakurikuler yang akan kalian

ikuti, kalau nggak suka ya nggak usah dipilih.

Teks Anekdot  : Tanda Orang Pintar


“anak-anak tandà orang pintar apà?” guru bertanyà

“rajin baca dàn nulis, bu!!!” jawab anak anàk

“bagus-bagus” puji guru

“rajin nyontek bu” jawab àmir

“lah kok, gitu mir” tegur guru

“buktinyà kita nyontek buat kapal, ahirnyà kita pintar buat kapal” betulkàn, bu”

“betul jugà, kamu mir” jadi anak-ànak rajinlah nyontek” guru berkatà

“asiiiik, besok ulangan kità bisa nyotek” jawab anak anak gembirà.

“bukan, yang model itu” seru guru sàmbil megang jidat.

Contoh Teks Anekdot 


Seorang guru sedang asik duduk dikelas satu. Murid bertanya.

Murid : “bu gulu ! (màklum belum bisà ucap r), katà amin satu tamba satu sebelàs”

Guru : “Min satu tambàh satu dua nak”. (bu guru menjelaskan padà amin)

Amin : “nggak bu, sebelàs. Ini buktinya” àmin maju menulis angka 11 dipapan tulis “sebelaskan, bu ?”

Guru : “dasar ànak-anak, kecil udah ngeyel gimanà besarnya ?” (dalam hati)


Contoh Teks Anekdot : Sarang Laba-laba

Pada saat pàk dosen memberi kuliah Sosiologi Hukum, bertanyalah ià pada mahasiswà yang bernama Elisà.

Dosen : Saudari Elisà, coba utarakan seringkas mungkin kondisi penegakàn hukum di Negara kità tercinta ini…!, tanyanya;

Elisa : Bagaikan sarang laba-labà pak!!’ jawabnyà tegas;

Dosen : Maksudnya…?!

Elisa : Kalau kelas nyamuk àkan tertangkap dan tak dapat berkutik pàk!, sedang kalau kelas kumbang, wàh…, jebol pak…!!;

Dosen : Kalau kelas gagàk?!

Elisa : Tak tahu pàk…!!

Mahasiswà lainnya : Hahahà


Teks Anekdot : Cara Keledai Membaca Buku


Alkisah, Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati.

Tetapi Timur Lenk memberi syarat, Ajari terlebih dahulu keledai itu membaca. Dua minggu setelah sekarang, datanglah kembali kemari, dan kita lihat apa yang akan terjadi.

Nasrudin berlalu, sambil menuntun keledai itu ia memikirkan apa yang akan diperbuat. Jika dapat mengajari keledai itu membaca, tentu ia akan menerima hadiah, namun jika tidak, hukuman pasti akan ditimpakan kepadanya.

Dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar agar Nasrudin segera mempraktekkan apa yang telah ia lakukan. Nasrudin lalu menggiring keledainya menghadap ke arah buku tersebut, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu. Dan ajaib!! Tak lama kemudian Si Keledai mulai membuka-buka buku itu dengan lidahnya. Terus menerus, lembar demi lembar hingga halaman terakhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin seolah berkata ia telah membaca seluruh isi bukunya.


Demikianlah, kata Nasrudin, Keledaiku sudah membaca semua lembar bukunya. Timur Lenk merasa ada yang tidak beres dan mulai menginterogasi, Bagaimana caramu mengajari dia membaca ...?

Nasrudin berkisah, Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji itu, kalu tidak ditemukan biji gandumnya ia harus membalik halaman berikutnya. Dan itu ia lakukan terus sampai ia terlatih membalik - balik halaman buku itu.

Tapi, bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya? tukas Timur Lenk. Nasrudin menjawab, Memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.

Jadi kalau kita juga membuka - buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita sebodoh keledai, bukan? kata Nashrudin dengan mimik serius. hehehe.



Teks Anekdot  : Cara Keledai Membaca Buku


Alkisah, Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati.

Tetapi Timur Lenk memberi syarat, Ajari terlebih dahulu keledai itu membaca. Dua minggu setelah sekarang, datanglah kembali kemari, dan kita lihat apa yang akan terjadi.

Nasrudin berlalu, sambil menuntun keledai itu ia memikirkan apa yang akan diperbuat. Jika dapat mengajari keledai itu membaca, tentu ia akan menerima hadiah, namun jika tidak, hukuman pasti akan ditimpakan kepadanya.

Dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar agar Nasrudin segera mempraktekkan apa yang telah ia lakukan. Nasrudin lalu menggiring keledainya menghadap ke arah buku tersebut, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu. Dan ajaib!! Tak lama kemudian Si Keledai mulai membuka-buka buku itu dengan lidahnya. Terus menerus, lembar demi lembar hingga halaman terakhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin seolah berkata ia telah membaca seluruh isi bukunya.

Demikianlah, kata Nasrudin, Keledaiku sudah membaca semua lembar bukunya. Timur Lenk merasa ada yang tidak beres dan mulai menginterogasi, Bagaimana caramu mengajari dia membaca ...?

Nasrudin berkisah, Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji itu, kalu tidak ditemukan biji gandumnya ia harus membalik halaman berikutnya. Dan itu ia lakukan terus sampai ia terlatih membalik - balik halaman buku itu.


Tapi, bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya? tukas Timur Lenk. Nasrudin menjawab, Memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.

Jadi kalau kita juga membuka - buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita sebodoh keledai, bukan? kata Nashrudin dengan mimik serius. hehehe.


Teks Anekdot : Pak Guru vs Siswa di Lomba Renang



”Anak anak silahkan kalian berkumpul sesuai kelompok renang, sesuai dengan keahliannya masing masing”, pak Guru memberi pengumuman.

Semua berkumpul berkelompok
1. kelompok gaya punggung
2. kelompok gaya dada
3. kelompok gaya kupu kupu
4. kelompok gaya bebas

Dan ada satu orang siswi yang diam saja tidak ikut serta masuk dalam kelompok.

“Ina kenapa kamu tidak masuk dalam kelompok” pak Guru bertanya.

“anu, pak saya buat kelompok sendiri aja , tapi……..” jawab Ina ragu.

“tapi kenapa Ina?” tanya pak Guru

“pada nggak mau pak, soalnya nama kelompok renangnya GAYA BATU” jawab Ina

"Hahaha gaya renang paling fenomenal itu pak" jawab teman lainya.

Teks Anekdot : Presiden dan Burung Beo


Ada dua orang presiden yang terlibat dalam sesi tanya jawab dan suasananya cukup mengherankan.

Presiden 1: “Ada burung Beo yang sudah diajarkan dua bahasa sekaligus, dan burung Beo tadi bisa menirukan dengan bagus, satu bahasa Inggris dan yang ke dua bahasa Rusia. Jadi kalau ditarik kakinya yang kanan, burung Beo akan biacara bahasa Inggris dan kalau ditarik kakinya yang kiri burung Beo akan bicara bahasa Rusia, hebatkan!”

Presiden 2: “Hebat-hebat!”

“Bagaimana kalau kedua kakinya ditarik?” tanya presiden 1.

“Wah pasti burung Beo tadi bisa dua bahasa sekaligus!” jawab presiden 2.

“Salah”.

“Oh mungkin dua bahasa tadi menjadi campur aduk!”.

“Salah”.

“Atau mungkin salah satu katanya akan ketukar, satu bahasa Inggris dan kata kedua bahasa Rusia”.

“Salah”.

“Loh … jadi gimana donk?”.

“Yang jelas kalau kedua kakinya ditarik, burung Beonya akan jatuh dari sarangnya, bego!”.

“Eh jangan main-main ya, gini-gini gua presiden, walau hanya di rumah tangga, masa lu bilang bego!”.

Dan tak lama kemudian pun burung Beo itu menirukan kata-kata tersebut.

“Presiden bego … presiden bego … presiden bego!” suara burung Beo terdengar berulang-ulang.

Struktur

Abstraksi: Ada dua orang presiden yang terlibat dalam sesi tanya jawab.

Orientasi: Suasananya cukup mengherankan.

Krisis: “Yang jelas kalau kedua kakinya ditarik, burung Beonya akan jatuh dari sarangnya, bego!”.

Reaksi: “Eh jangan main-main ya, gini-gini gua presiden, walau hanya di rumah tangga, masa lu bilang bego!”.

Koda: “Presiden bego … presiden bego … presiden bego!” suara burung Beo terdengar berulang-ulang.

Teks Anekdot : Pengendara Motor di Indonesia


Suatu hari Jarwo dan Jono tengah asyik mengobrol di warung kopi. Mereka berdua mengobrol tentang perilaku berkendara motor di Indonesia.
Jarwo: Jakarta macet banget ya har ini.
Jono: Bukan Jakarta Kang kalau nggak macet.
Jarwo: Iya juga sih. Kapan ya Jakarta nggak macet lagi?
Jono: Gimana nggak macet, lha wong yang punya kendaraan makin banyak. Apalagi motor, saya sering kesel kalau lihat pengendara motor di negara kita. Lampu merah main serobot, nyalip nggak tau aturan.
Jarwo: Tapi ngomong-ngomong pengendara motor kita itu hebat lho, lebih hebat dari pembalap MotoGP.
Jono: Hebat apanya Kang? Lha wong orang Indonesia aja nggak ada yang balapan di MotoGP.
Jarwo: Pembalap MotoGP kalau nyalip kan hebat banget, belok kanan, belok kiri, miring kanan miring kiri. Tapi, kalau mau nyalip penuh perhitungan, kalau celahnya sempit, lebih baik cari kesempatan lain. Pokoknya yang penting nggak membahayakan keselamatan.
Jono: Kalau pengendara motor kita gimana?
Jarwo: Kalau pengendara motor kita mah jangankan mobil kecil, truk gandeng, bahkan kontainer tancap gas buat nyalip. Bahkan biar bisa cepat sampe, tak ada ruang untuk nyalip, trotoar pun jadi.
Jono: Oh, jadi gitu.
Jarwo: Ada lagi Kang. Sehebat-hebatnya pembalap MotoGP, nggak ada yang berani ngelawan arah. Pernah liat nggak pas Valentino Rossi lagi posisi satu, kemudian muter balik?
Jono: Ya nggak lah Kang.
Jarwo: Kalau pengendara motor kita, kalau cuma lawan arah mah biasa. Ada trotoar sikat, jembatan penyeberangan sikat, Asal cepat sampe.
Jono: Bener juga ya. Ada lagi nggak Kang?
Jarwo: Ada lagi. Saya lihat berita kalau pembalap MotoGP itu waktu kecilnya latihan pake motor kecil, balapan di jalanan khusus. Nah, kalau di kita, anak SMP aja udah banyak yang ke sana ke mari naik motor. SIM nggak punya, helm nggak pake, berani ngebut lagi. Mana ada pembalap MotoGP yang waktu balapan nggak pake helm? Kalau di kita mah pake nggak pake, ngebut ya ngebut aja. Nggak sadar nyawanya cuma ada satu atau gimana nggak tau. Takutnya kalau lagi asyik-asyiknya pake motor, liat polisi. Apalagi nggak bawa uang buat kasih salam tempel ke polisi. Langsung deh cari jalan alternatif atau berhenti dulu.
Jono: Bener banget Kang. Kayaknya punya temen polisi atau gimana gitu bisa cerita sampe sejelas ini.
Jarwo: Karena saya juga kadang kayak gitu, haha.
Jono: Ngomong-ngomong pernah kena tilang Kang?
Jarwo: Pernah.
Jono: Ceritain dong Kang gimana kok bisa kena tilang?
Jarwo: Waktu itu ada lampu merah, berhubung lumayan sepi, saya nerobos aja. Eh, nggak taunya ada polisi yang ngejar saya. Akhirnya ditilang deh saya.
Jono: Polisinya nanya apa?
Jarwo: Nanya begini “Anda tau kalau Anda tadi menerobos lampu merah?”, “Tahu Pak,” saya jawab gitu. Polisi itu nanya balik, “Kenapa Anda tidak berhenti?” Saya jawab, “Saya nggak lihat Bapak.”
Jono: Hahaha. Akang bisa aja. Habisin dulu Kang kopinya, mumpung masih anget.
Jarwo: Gara-gara keasyikan ngobrol nih, jadi lupa sama kopi.


Teks Anekdot tentang Pendidikan : Sekolah Bertarif Internasional


Suatu ketika di sebuah sekolah negeri "Entah Dimana", seorang ibu guru memberi tahu kepada anak didiknya bahwa sekolah mereka akan berubah status menjadi sekolah SBI. "Anak-anak, ada kabar gembira untuk kita semua. Tidak lama lagi Sekolah kita akan menjadi sekolah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Nah, untuk menyambut hal ini, saya mau tanya apa yang akan kalian siapkan? Tanya sang guru. "Joni, apa yang akan kamu lakukan untuk menyambut ini?" Tanya guru tersebut lebih lanjut. Dengan sigap si Joni pun menjawab pertanyaan guru “Belajar bahasa Inggris agar mampu berbicara bahasa Inggris bu" jawab joni.

"Bagus sekali. Kalau kamu, Jono?" tanya guru kepada Jono
"Harus siapkan uang, Pak” Jawab Jono

"Lho kok uang?" Tanya guru lebih lanjut

"Ya Pak. Soalnya kalau sekolah kita statusnya sudah SBI, pasti bayarnya lebih mahal. Masa sih bayarnya sama kayak sekolah biasa? Udah gitu, pasti nanti diminta iuran untuk ini itu" Jelas Jono lebih lanjut.

"Jawabanmu kok sinis sekali? Begini lho, kalau sekolah kita bertaraf internasional artinya sekolah kita itu setara dengan sekolah luar negeri. Jadi, kalian seperti sekolah di luar negeri" Sang guru melanjutkan penjelasannya.

"Tapi Pak, kalau menurut saya, SBI itu bukan Sekolah Bertaraf Internasional, tapi Sekolah Bertarif Internasional." Jono juga melanjutkan pejelasannya.

Akhirnya ibu guru tersebut kebingungan membalas kata-kata Jono dan langsung membahas materi pelajaran. Sebagai informasi tambahan, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sekarang ini sudah dibubarkan oleh MK.


Teks Anekdot tentang Politik : Anggota DPR dan Burung Beo


Dalam sebuah sesi istrahat, seorang anggota DPR terlihat sedang duduk bersantai dengan temannya sesama anggota DPR. Untuk mengisi waktu, seorang anggota DPR pun membuka memulai percakapan.

Anggota DPR 1: "Saya punya burung beo yang sudah diajarkan dua bahasa sekaligus, dan burung beo tadi bisa menirukannya dengan sangat baik, satu bahasa Inggris dan lainnya bahasa Belanda. Jadi kalau kaki kanannya ditarik, burung beo akan bicara bahasa Inggris dan kalau kaki kirinya yang ditarik burung beo akan bicara bahasa Belanda, hebatkan!"

Anggota DPR 2: "Wah, hebat banget!"

"Bagaimana jika kedua kakinya ditarik?" Tanya anggota DPR 1

"Wah pasti burung beo tadi bisa dua bahasa sekaligus!" Jawab anggota DPR 2
"Salah"

"Oh mungkin dua bahasa tadi saling bercampur aduk!"

"Salah"

"Atau mungkin salah satu katanya akan ketukar, satu bahasa Inggris dan kata kedua bahasa Belanda"

"Salah"

"Loh, jadi gimana dong?"

"Yang jelas kalau dua kakinya ditarik burung beonya pasti jatuh dari sarangnya, dasar bego!"

"Eh jangan ngeledek yah, gini gini gua juga anggota DPR sama seperti kamu, masa lu bilang bego!"

"DPR bego, DPR bego, DPR bego!" Suara burung beo terdengar berulang-ulang.


Teks Anekdot Tema Sosial : Bebas dari Kemiskinan


Barack Obama: Ya Tuhan, kapan rakyatku akan bebas dari kemiskinan?

Tuhan: 25 Tahun lagi

Obama: *menangis tersedu-sedu

Tony Abbott: Ya Tuhan, kapan rakyatku bebas dari kemiskinan?

Tuhan: 20 tahun lagi

Abbott: *menangis tersedu-sedu

Jokowi: Ya Tuhan, kapan rakyatku bebas dari kemiskinan?

Tuhan: *menangis tersedu-sedu


Teks Anekdot Tentang Hukum : Pencuri Ikan di Hukum Seumur Hidup


Setelah melewati proses peradilan, seorang narapidana muda akhirnya dijebloskan ke dalam sel penjara. Hari pertama, seorang napi tua bertanya padanya: "Usiamu masih sangat muda kok sudah masuk penjara, kejahatan apa yang telah kamu perbuat?"

"Saya mencuri ikan pak", jawab narapidana muda itu dengan singkat.

Narapidana tua: "Kamu dapat vonis berapa tahun?"

"Saya dihukum seumur hidup pak dengan masa percobaan 2 tahun"

Dengan rasa heran napi tua itu bertanya lebih jauh : "Pencurian ikan kok sampai dihukum seberat ini, apa ikan yang kamu curi itu ikan paus?"

Narapidana muda: "Saya hanya membom ikan di dalam sebuah waduk pak, dengan sebuah detonator tenggelam, kemudian 3 ekor ikan mengambang di permukaan air"

Narapidana tua: "Kasus ini kan hanya kasus biasa, paling-paling kamu ditahan 2 hari saja"

Narapidana muda: "Pokok masalahnya adalah, tidak lama kemudian mengapung pula mayat beberapa orang penyelam"

Narapidana tua: "Hahaha, pantas saja kamu masuk penjara, ternyata yang kamu bom tidak cuma ikan saja, melainkan manusia juga ikut terkena bom tersebut".

Dan akhirnya narapidana tua tercengang dan tertawa akan penjelasan narapidana muda tersebut. Situasi kembali normal dan mereka bersama-sama berbincang-bincang dalam penjara.

Demikian tadi Teks Anekdot Beserta Strukturnya Yang Baik Dan Benar. Anda dapat mengabilnya sebagai bahan referensi pembuatan teks anekdot yang sedang Anda buat. Semoga bermanfaat dan sekian Teks Anekdot Beserta Strukturnya Yang Baik Dan Benar.

sumber : http://x-1fmnusantara2.blogspot.co.id/2014/09/33-yuanda-wais-harum.html
ADSENSE HERE!
Copyright © PGRI Indonesia. All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design